Sebuah kisah yang sangat menyentuh dan bisa memacu motivasi saya, kisah yang ditulis oleh Ir. Amjad Qasim dalam bukunya Kaifa Tachfazh al Qur’an al Karim fii Syahr. Di sini saya tulis ulang dengan harapan dapat menambah motivasi dan kepasrahan diri kita kepada ALLOH dalam menghafal Al Qur’an… amiin… :) Ini kisahnya…
AlhamduliLLAH, sesuai dengan kemuliaan dan keagungan kuasa-NYA, aku telah khatam menghafal Al Qur’an. Berikut ini pengalamanku, dan aku menghadiahkannya untuk kalian.
Ini adalah masa-masa indah yang berlalu dengan segala kisah yang ada di dalamnya. Dan, inilah mimpi yang m,enjadi kenyataan. Serta, memori yang selalu menghampiriku.
Perlu diketahui bahwa sesungguhnya tujuan terbesar dalam hidupku adalah hafal surah Al Baqarah dan Ali ‘Imran. Demi ALLOH, sekali0kali kalian tidak akan percaya bahwa sebenarnya aku adalah orang yang tidak memiliki kesabaran untuk menghafal Al Qur’an secara keseluruhan. Itu disebabkan karena aku menganggaphal tersebut sebagai sesuatu yang mustahil dan sangat susah diwujudkan. Dan saat itu, aku masih hidp dengan mempertahankan tujuan yang ingin aku wujudkan sebelumnya, yaitu hafal surah Al Baqarah dan Ali ‘Imran.
Aku beranggapan bahwa kedua surah itu adalah yang paling sulit dihafal. Kau juga beranggapan bahwa sepertinya sulit sekali untuk mempertahankan hafalan tersebut dalam waktu lama. SubhanaLLOH, tak terasa sudah 7 tahun aku mempertahankan hafalan kedua surah tersebut.
Ketika tiba bulan Ramadhan, tiba-tiba suamiku mengejutkanku bahwa ia akan beri’tikaf selama 15 hari terakhir Ramadhan di Masjid Al Haram. Tentu kalian mengerti akan kesulitan yang akan kuhadapi, karena aku ditinggal sendirian bersama anak-anakku.
Kami tinggal di daerah yang jauh dari keluarga, sedang para tetangga di sini semuanya menutup pintu rumah (tidak peduli dengan urusan sesama tetangga). Namun di sisi lain, aku juga merasa gembira karena suamiku akan beri’tikaf. Tetapi, manfaat apa yang dapat kupetik dalam kesendirian?
Ketika waktunya telah tiba dan suamiku pergi untuk beri’tikaf, aku [un merasakan pahitnya ditinggal sendirian (bersama anak-anak). Kemudian, aku menengadahkan tanganku kepada Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Lalu aku berdoa kepada-NYA dengn doa orang yang tertimpa kesulitan, sedang air matapun mengalir deras membasahi pipiku, “Wahai RABB-ku, ENGKAU Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Curahkanlah kepadaku rizqi berupa teman-teman yang shalih/shalihah, yang lebih baik dariku. Sehingga, aku bisa meneladani mereka. Yaa ALLOH, berikanlah untukku sebaik-baik teman.”
Sungguh, dalam waktu singkat doaku dikabulkan oleh RABB Yang Maha Pengasih. Sebagaimana kita ketahui bahwa Dia telah berfirman dalam kitab-NYA, “….ud’uunii astajib lakum..” Artinya : “Berdoalah kepada-KU, niscaya akan AKU perkenankan bagimu…” (QS. Ghafir (40) : 60). Ketika aku duduk di depan komputer sambil mengakses internet guna mencari situs yang berisikan informasi tentang keajaiban Al Qur’anul Karim, tiba-tiba mataku tertuju pada situs akademi penghafal Al Qur’an. Sebelumnya, aku tidak tahu bahwa masuknya alku ke dalam komunitas situs ini adalah pertanda terkabulnya doaku. Aku pun masuk dalam komunitas situs inidalam keadaan teharu.
Demi ALLOH, aku sign out dari situs ini dalam keadaan tidak seperti keadaan ketika aku sign in. Keadaan ini belum pernah aku impikan sebelumnya. Setelah ini belum tertuju untuk beri’tikaf selama 10 hari terakhir Ramadhan dalam rangka menghafal Al Qur’an. Sungguh merupakan karunia dan taufik ALLAOH atasku adalah aku segera mendaftarkan diri untuk beri’tikaf di akademi penghafal Al Qur’an tersebut tanpa keraguan.
“Setelah itu, kerinduanku (untuk menghafal) pun bertambah. Sementara kesedihan dan kesempitanku hilang. Kemudian ALLOH mengganti kedua perasaan tersebut dengan ketenangan yang tiada tara.” Sejak pertama aku beri’tikaf, aku merasa kagum dengan para akhwat yang turut beri’tikaf denganku. Demi ALLOH, mereka adalah sebaik-baik saudari di jalan ALLOH. Mereka menceritakan pengalaman-pengalaman mereka dalam menghafal Al Qur’an.
Aku bertawakkal pada ALLOH, aku mengambil keputusan untuk beri’tikaf dalam menghafal Al Qur’an, karena sesungguhnya inilah amalan terbaik di bulan Ramadhan. Akupun berujar,”Sungguh, Ramadhan kali ini akan berbeda (dengan Ramadhan sebelumnya), dengan izin ALLOH.”
Kuambil secarik kertas, lalu kutulis di dalamnya keuntungan-keuntungan yang akan kuperoleh dari menghafal Al Qur’an, berupa nikmat dan kebaikan yang besar di dunia maupun akhirat. Begitu pula dengan nikmat yang lebih besar daripada keduanya, yaitu keridhaan ALLOH terhadapku. Dengan izin ALLOH, dalam waktu yang tidak lama lagi aku akan bergabung dengan mereka, sebaik-baik umat ini, sebagaimana sabda RasuluLLOH SAW : “Khoyrukum min ta’allamal Qur’an wa’allamahu.” Artinya : Orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Saat itu, aku berkhayal seakan-akan aku bersama para Nabi, Shiddiqin, Syuhada’ dan orang-orang shalih, dan mereka itulah teman yang paling baik. Kemudian aku berkhayal lagi seakan-akan aku menyematkan mahkota di atas kepala kedua orang tuaku dengan kedua tanganku ini. Aku berkhayal bahwa aku dapat membebaskan mereka (dari siksa), kemudian aku pun kembali kepada diriku (untuk membebaskan diri sendiri). Aku Juga berkhayal mengenai berbagai kenikmatan yang ALLOH anugerahkan kepadaku.
Aku menulis semuanya, dan kugantungkan tulisan itu ditempat yang seantiasa kurawat. Akupun membawa halaman-halaman (mushaf Al Qur’an). dimana aku telah bertekad untuk tidak sekalip-un meninggalkannya, bahkan aku akan menjadikan sebagai teman setia dalam perjalanan ini. Setelah itu, aku berwudlu lalu duduk dan membuka Al Qur’an. Aku berkata dengan suara yang hanya terdengar oleh diri sendiri, “Sekarang aku akan menguji kemampuan akalku yang sebenarnya. Dan aku akan memulainya dengan bertawakkal pada ALLOH.” Itu kuucapkan seraya mengulang-ulang firman ALLOH Ta’ala : “walaqoq yassarnal Qur’aana lidzdzikri fahal min muddakkir.” Artinya : “Dan sesungguhnya telah KAmi mudahkan Al Qur’an itu untuk pelajaran. Maka, adakah oeang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al Qomar (54) : 17).
Kemudian, kupasangkan alat pengingat untuk mengingatkanku bahwa aku akan hafal 1 lembar dalam 10 menit. Maka, akupun mulai menghafal halaman demi halaman. Setiap halaman, kuhafalkan seraya berdo’a kepada ALLOH agar DIA berkenan memantapkannya pada diriku. Doa yang kupanjatkan adalah,”Wahai RABB-ku, kutitipkan pada-MU apa yang telah ENGKAU ajarkan kepadaku, maka jagalah ia untukku.”
Aku mulai menghafal pada waktu Dluha sampai Zhuhur. Lalu menghafal lagi sampai jam 14.30 siang. Setelah ati, aku tidur sebentar dengan memasang alarm. Ketika alarm berbunyi pada jam tiga sore, aku segera bangun untuk sholat ‘Ashr. Kemudian, aku mulai menghafal sampai datangnya waktu maghrib dan kulanjutkan hingga menjelang ‘Isya’. Dari mulai menghafal sampai selesai, aku tidak berpindah-pindah. Aku hanya duduk pada satu tempat, hingga tak terasa aku sudah hafal 3 Juz. Yaa ALLOH, betapa mulianya ENGKAU dan betapa besarnya nikmat-MU. Akan tetapi, mengapa kami tidak pernah menyukuri nikmat ini?
Aku melanjutkan hafalanku sampai selesai menghafal 16 juz dalam 6 hari, alhamduliLLAH. Aku bingung, apakah akan kusembunyikan hafalanku menjadi 30 juz atau mengulang-ulang apa yang telah kuhafal. Kawan-kawan baikku menasehatiku agar aku menyempurnakannya dan tidak berhenti hanya pada juz ke 16, maka kusempurnakanlah hafalanku. Aku yakin bahwa hafalanku tidak hilang hingga suamiku datang dan kami kembali berkumpul dengan keluarga. Karena, akau telah “menitipkannya pada RABB-ku Yang Maha Mulia (agar DIA selalu menjaganya).
SubhanaLLOH, tak terasa aku meninggalkan tempat dimana aku menghafal Al Qur’an dan berkhalwat dengan RABB-ku. Setelah itu, aku akan menuju kehidupan yang melalaikan dan keduniaan yang fana, dimana semuanya sedang memfokuskan perhatiannya pada beberapa pertanyaan,”Kue dan manisan apa yang akan kami persiapkan untuk hari ‘Id kali ini? Pakaian apa yang kami pakai pada hari ‘Id kali ini?” Serta berbagai hal lainnya, sedang aku masih mengasingkan diri untuk menghafal Al Qur’an.
Kemudian, aku kembali kepada mereka, sedangkan aku berharap dapat menghatamkan hafalanku pada hari terakhir bulan Ramadhan dan mendapatkan dua kebahagiaan. Namun ketika yang kuharapkan belum terwujud, cobaan dan ujian dari RABB semesta alam datang padaku. Sehingga muncul pertanyaan, apakah aku akan melanjutkan hafalanku atau justru menghentikannya? dan AlhamduliLLAH, aku tidak berhenti menghafal.
Mungkin kalian tak akan percaya bahwa pada suatu hari aku tidak dapat menghafal kecuali hanya 2 halaman. Bukan karena tidak bisa, tetapi karena aku disibukkan dengan musibah yang menimpaku. Keempat anakku semuanya menderita demam tinggi, hingga mereka tidak bisa tidur sepanjang malam. Karena itulah aku banyak begadang malam untuk menemani mereka. Bahkan ketika aku merasa kepayahan sedang anakku yang paling kecil terus-menerus menangis, dan tak ada seorangkpun yang membantu, akupun jatuh sakit.
AlhamduliLLAH, walaupun sakit aku tak berhenti melanjutkan hafalan, dan terus berusaha sampai ALLOH berkenan menyembuhkan anak-anakku yang sudah lama terbaring sakit. Setelah mereka sembuh, aku bertawakkal pada ALLOH dan berkata pada diri sendiri, “Akan kukhatamkan 10 juz hafalan yang tersisa, dalam waktu dekat.” AlhamduliLLAH sungguh ALLOH telah memberikan karunia-NYA kepadaku hingga aku dapat menghafal dengan cepat.
Momen-momen terindah alam hidupku, yaitu saat aku mengkhatamkan hafalan Al Qur’an.
Pagi hari tu, aku bermimpi indah, mimpi itu menghembuskan kabar gembira bahwa pada hari itu aku akan mengkhatamkan hafalan Al Qur’an, serta merta aku teramat gembira karena pada hari itu hafalanku yang tersisa hanya tinggal 3 juz. Aku mulai menghafal dan tanpa sadar, aku menghafal dengan cepat. 1 halaman dapat kuhafal dalam waktu 8 menit, bahkan kadang 5 menit. Sehingga, ketika waktu menunjukkan pukul 21.00 malam, aku masih tak tahu bahwa itulah waktu yang telah kutunggu-tunggu. Itulah waktu pengkhataman hafalan.
Aku terus membaca dan menghafal, hingga tak kusadari bahwa yang tersisa hanya tinggal beberapa halaman. Tahukah kalian bagaimana aku menyadarinya? Sungguh, kalian tak akan percaya, aku merasakan ssuatu yang sangat aneh, ini belum pernah kurasakan sebelumnya. Perasaan ini bahkan tak bisa digambarkan, karena begitu cepatnya menjalar ke seluruh tubuhku. Perasaan yang berupa ketenangan dan ketentraman.
Demi ALLOH, seakan-akan diriku terbang karena ringannya tubuh. Aku jadi seperti selembar bulu, karena saking ringannya. Aku merasa heran, hingga aku bertanya pada diri sendiri, “Rasa apa ini?” Jantungku mulai berdegup kencang, seolah-olah ia berkata padaku, “Semoga keberkahan terlimpahkan atasmu, engkau telah khatam menghafal Al Qur’an. Al Qur’an telah bersemayam di dadamu.” Tiba-tiba aku tersadar, ternyata aku sedang membaca akhir ayat dimana aku mengkhatamkan Al Qur’an. Akupun langsung menyungkurkan diri bersujud syukur di tanah, sedang air mata kegembiraan jatuh menetes ke bumi. Aku lantas berlari menemui suamiku, dan kukabarkan berita gembira ini padanya dengan penuh sukacita.
Lalu, kutatap mushaf yang telah menemaniku sepanjang perjalanan menghafal ini. Aku menangis sembari berkata,”Duhai mushafku yang tercinta… sungguh, aku telah sampai pada momen-momen terindah dalam hdupku.” Kupeluk mushaf itu denagan erat dan berulang kali kuucapkan,”AlhamduLILLAH, segala puji bagi ALLOH, sesuai dengan kemuliaan wjahNYA dan keagungan Kuasa-NYA. AlhamduliLLAH, aku telah khatam menghafal Al Qur’an sebelum ajal menjemputku.”
Berikutnya, perasaan yang tak bisa kugambarkan adalah tiba-tiba aku beranjak ke depan komputer. Lalu kuputar CD berisi ucapan-ucapan takbir, yang kuimpikan sepanjang masa hafalanku. Kemudian aku dan suamiku mendengarkannya dan semua merasa gembira.
Yaa ALLOH, segala puji bagi-MU yang telah memuliakanku dengan menghafal kitab-MU. Duhai RABB-ku, betapa mulianya ENGKAU. KAU telah menggantikan kesendirianku dengan sahabat-sahabat terbaik yang menemaniku dalam kehidupanku dan dikuburku nanti. Wahai RABB-ku, kuberdoa pad-MU saat hatiku terkoyak lantaran kesendirian. Kemudian ENGKAU menggantinya dengan sesuatu yang lebih dari apa yang kuangan-angankan dan kuharapkan. Betapa mulianya ENGKAU., wahai RABB Yang Maha Pengasih, yang telah memberikan karunia berlimpah.
Untuk menutup halaman ini aku sampaikan pada kalian bahwa aku adalah wanita sebagaimana wanita lainnya. Aku memiliki suami dan anak-anak yang belajar di sekolah khusus dengan kurikulum pelajaran yang sangat sulit. Aku menghafal Al Qur’an tapi aku tidak melalikan tanggung jawabku sebagai seorang ibu. Aku didik anak-anakku dan berusaha mengajari mereka segala sesuatu. Bahkan tanggung jawabku yang paling utama adalah sebagai seorang istri yang berusaha untuk mendapatkan keridloaan suami, tanpa mengurangi haknya dan dengan menunaikan kewajiban-kewajibanku secara sempurna.
AlhamduliLLAH, ALLOH tidak menjadikanku telat dalam menghafal Al Qur’an. Demi ALLOH, janganlah sekalipun kalian beralasan atas tidak hafalnya kalian terhadap Al Qur’an. Apalagi kalian adalah para gadis yang belum menikah dan belum memikul tanggung jawab. Pertama dan terakhir kalinya adalah berparasangka baik pada ALLOH, karena dengan begitu ALLOH akan berprasangka baik sesuai dengan prangsaka hamba-NYA. Pada awalnya, aku mengira bahwa Surah Al Baqarah dan Ali ‘Imran sangat sulit untuk dihafal dan usaha itu akan memakan waktu yang lama. Dan, ALLOH pun memberikanku anugerah sesuai dengan apa yang kusangka, yakni menghafal selama 7 tahun. Itu karena aku tidak berprasangka baik kepada ALLOH.
Wahai orang yang berkeinginan untuk menghafal Al Qur’an, bertawakkal-lah pada ALLOH, bersungguh-sungguhlah dalam berusaha, dan jujurlah pada dirimu, bahwasanya engkau benar-benar ingin menghafal Al Qur’an! Serta, berprasangka baiklah bahwa ALLOH akan memberikan taufik-NYA atas usahamu. Demi ALLOH engkau akan memperoleh apa yang kau ingin dengan segera. Dan engkau akan menjadi bagian dari penghafal kalam yang paling agung, yaitu kalam RABB semesta alam.
SuhanaLLOH, mereka yang mengenalku mengira bahwa aku selalu mengawasi anak-anakku. Tetapi tanpa perlu kujelaskan dengan kata-kata, mereka akan mengatahui hal yang sebenarnya. Suatu hari, ketika aku sedang duduk, anakku yang belum genap berusia 2 tahun berjalan mendekati meja yang di atasnya terdapat beberapa mushaf. Kemudian, ia membawa mushaf yang biasa kugunakan untuk menghafal. Ia mengenali mushaf itu, dan membawanya padaku. Setelah itu, ia menyerahkan kepadaku sembari mengucpkan beberapa patah kata’”Mata, Qur’an.” seakan-akan ia berucap,”Bacalah wahai ibu, dalam waktu dekat ibu akan selesai menghatamkannya.”
SubhanaLLOH, pada hari itu tidak ada perhatiannya selain mencariku dan mencari ayahnya. Jika mushaf tidak terdapat di tangan kami, maka ia berlari untuk mengingatkan kami… subhanaLLOH….
Itulah kisahnya, semoga menyentuh hati kita yang selalu digelayuti kemasalan dan semoga bermanfaat….
Minggu, 13 April 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar